
Pembahasan soal percintaan tuh hal yang paling aku hindari.
Bukan aku anti jatuh cinta, bukan juga karena aku tidak punya crush, hanya saja aku selalu kalah.
Tidak banyak kisah cinta tentang aku dan sang pujaan hati yang bisa aku sampaikan—masa nya terlalu singkat. Cukup singkat layaknya jalan suatu Closed Agency, selama 7 hari.
TW // Mentioned drunk
“Aku suka kamu.” Itu yang aku katakan pada dirinya di suatu waktu, ketika aku merasa ada perasaan yang berdebar dan kenyamanan tiap dekat dengan dirinya.
Bukannya membalas dengan memberitahu perasaannya, dia hanya tertawa. Ia menganggap kalau aku hanya berbicara asal—mungkin dia masih mengira aku mabuk. “Aku antar pulang aja ya? Kamu udah high gitu.”
Aku menggeleng, menahan diriku untuk dibawa pergi oleh dirinya. Namun sia-sia, ia tetap menggeretku keluar dari klub malam dan mengantarkan ku pulang. Ada sebercik keraguan dari diriku; apakah dia tidak yakin jika aku menyukainya? Pun memang begitu, aku siap menunjukkannya.
Dari tekad sederhana itu, dua hari kemudian—di hari ketika kami ada kelas bersama—aku mulai perlahan menunjukkan aksi ku untuk menggodanya. Bukan menggoda dalam artian bermain-main, kali ini aku serius. Aku tidak menggombalinya seperti biasa, aku menunjukkan aksi.
Ada banyak hal yang biasanya aku biasa saja, kali ini aku perhatian dengan dirinya; mengubah diriku dari seorang word of affection menjadi act of service.
Berawal dari sederhana seperti membawa barangnya, membantu membawa tas nya, membelikan makanan, sampai hal-hal yang intens seperti mengantar jemput, berusaha menemani ketika ia memberitahu hendak pergi ke suatu tempat—selalu berusaha menempatkan serta menunjukkan eksistensi dari diriku di hadapannya sebagai seseorang yang ingin lebih dari sekedar teman.
Hari pertama berlalu, menuju hari kedua, melewati hari ketiga, sampai berangsur pada hari ketujuh. 7 hari aku merubah perilaku ketika dekat dengan dia untuk meyakinkan bahwa aku benar-benar menyukainya.
“Ada yang beda dari kamu.” Oh, dia mulai sadar ya?
“Apa?”
“Gak kaya biasanya sih. Aku ngerasa kamu seminggu ini kaya apa ya… Gak tau bilangnya, tapi intinya tuh ngerasa intens banget ke aku. Mmmm kaya shock, tapi ga shock. Lebih ke bingung aja ya aku gimana?” Akhirnya.
Aku menghela nafas dan menatapnya sambil tersenyum kecil “Udah mulai sadar kan sekarang?”
“Apa?” Dia bingung.
“Apa yang aku bilang, di klub minggu lalu. Itu aku serius lho, aku beneran suka sama kamu. Ya, mungkin kamu waktu itu gak percaya karena kondisiku mabuk berat, paham sih. Makanya aku bertekad buat menunjukkan aksi secara langsung. Aksi kalau aku emang suka sama kamu. Bukan aksi yang hanya berlandasan gombal, kali ini aku serius. Aku suka kamu, aku gak bisa sebatas teman sama kamu.”
“Kamu tuh… Sadar gak sih bilang kaya gini?”
“Sadar kok, makanya aku bilang langsung. Aku udah berkali-kali kasih kamu kode dan selalu kamu anggap bercanda. Padahal aku serius, aku mau lebih dekat sama kamu—lebih dari sekadar teman.”